Rasa Bekatul Ya dan Tidak

Barangkali satu hal yang sering dikeluhkan orang setelah mencoba mengonsumsi bekatul adalah rasanya yang tidak enak. Hal itu wajar saja karena mengenai selera dan rasa pastilah tiap-tiap orang beda. Jadi, tentulah tidak heran kalau ada juga yang berkomentar begini: "Waa... Anton, ternyata bekatul itu rasanya enak ya!" Ha ha ha...!


Bagi yang merasa bekatul itu tidak enak kemungkinan besar tidak akan mengonsumsi bekatul lebih lanjut. Sebagian lagi tetap melanjutkan, karena mempunyai prinsip "ala bisa karena biasa" atau ada keinginan kuat untuk sembuh dari sakitnya. Nah, untuk yang mengatakan bahwa bekatul itu enak, aku tidak perlu mengomentari lagi. Sebagian besar orang yang memesan bekatul padaku saat ini adalah pelanggan-pelanggan tetap yang rutin mengonsumsi bekatul.

Aku sendiri adalah jenis yang "ala bisa karena biasa". Percaya akan "biasa" membuat kita "terbiasa", membuatku terus mengonsumsi bekatul, yang hingga hari ini sudah berjalan satu setengah tahun. Manfaatnya sudah aku rasakan, ASMA TIDAK KAMBUH LAGI. Obat asma yang diminum maupun yang dihirup (inhaler) tidak pernah aku pakai lagi. Kadang-kadang terasa asma ingin kambuh karena cuaca buruk atau pas lagi kena flu, aku cepat-cepat bikin segelas bekatul dan meminumnya. Seorang ibu bahkan sudah dua tahun lebih mengonsumsi bekatul untuk mengobati hiperkolesterolnya, sebelum beliau tahu aku juga menjual bekatul.

Rasa bekatul yang tawar dan "kurang enak" tersebut dapat kita akali dengan mengonsumsinya bersama gula, gula merah (palm sugar), madu, susu, coklat, havermout, sereal lain, bubur kacang hijau, dan lain-lain. Dari pengalamanku, lebih nikmat mengonsumsinya dengan gula merah.

Kalau begitu kita terus ketergantungan dengan bekatul dong? Beberapa kali aku mendengarkan komentar atau pertanyaan ini. Jawabannya gampang saja, yaitu berupa pertanyaan juga. He he he...!
Apakah tiap hari makan nasi membuat Anda merasa ketergantungan pada nasi? Bekatul kan bagian dari nasi yang seharusnya Anda konsumsi juga, tetapi pada proses penggilingan beras bekatul dikupas/dipoles dan dibuang. Tujuannya supaya beras yang Anda masak dan makan terlihat putih, bersih, menarik dan enak dimakan. Tetapi... Anda kehilangan vitamin dan mineral yang penting!

Apakah Anda lebih senang terus mengonsumsi obat dokter ketimbang terus mengonsumsi bekatul? Katakanlah rasanya sama-sama tidak enak. Terserah Anda. Kalau aku sendiri ya pasti lebih senang mengonsumsi bekatul ketimbang obat dokter. Toh, karena sudah terbiasa, tidak terasa lagi kalau bekatul itu rasanya tidak enak.
Sedikit catatan, bagi yang menderita sakit maag aku sarankan mengonsumsi bekatul jangan pada saat perut dalam keadaan kosong. Sebaiknya, setengah atau satu jam setelah makan, atau dimakan bersama-sama dengan nasi, mie instant, bubur kacang hijau, dan lain-lain. Ini dikarenakan pada sebagian kecil orang yang mempunyai riwayat sakit maag timbul sedikit rasa mual. Solusi lain adalah dengan mengonsumsi bekatul dalam keadaan encer. Misalnya, dosis sehari dua sendok makan penuh dalam satu gelas air, dibagi menjadi pagi dan sore masing-masing satu sendok makan penuh dalam satu gelas air.

Salam sehat selalu.

No comments:

Post a Comment